Sunday, October 3, 2010

Difficult People?

On this day, God wants you to know
... that difficult people are very important, - they teach you tolerance and acceptance. If all was going your way all the time, you would become a spoiled child, wouldn't everyone? Difficult people are just one of the ways God teaches us to expand beyond our egos and accept other perspectives on life.
(From: "God wants you to know"applications in Facebook)

Tuesday, September 28, 2010

Accepting, Supporting, Challenging

On this day, God wants you to know
... that every relationship rests on three legs: accepting, supporting and challenging. That's really it, isn't it?
You want your relationships to be grounded on accepting each other as you are. On supporting each other through the inevitable ups and downs. On challenging each other to become more, to grow, to flourish. Which one of these is the more difficult one for you, and how are you going to practice it in the next 24 hours?

(From 'God wants you to know' application on facebook)

Wednesday, September 22, 2010

True giving..

On this day, God wants you to know... that you can only give away what you already have inside yourself. True giving happens when you are overflowing from the inside, and cannot help but share. When there is so much love within you that it has to flow to others or you would burst open. There is no think...ing involved, no willpower in such sharing. It just flows out. If you have to force yourself to be kind, to love, to feel compassion, you've missed the first step of filling in your own Self with these emotions.

Wednesday, September 15, 2010

Forever Friends..

"We're forever friends...bound by love that time can't take away.
Forever friends...caring in a special kind of way.
Heart to heart and hand in hand.
We'll stand until the end.
Love's forever when...we're forever friends."

Saya mempunyai seorang teman. Saya bisa berkenalan sama dia pertama kali, karena dia adalah temannya Catur, suami saya. Mereka sudah berteman sejak lama, sejak masih sekolah mungkin... Sama-sama dari Pekalongan, sama-sama kuliah di UKI (walaupun beda fakultas), pernah nge-kost di tempat yang sama, bergereja di gereja yang sama.. Yah bisa dikatakan teman seperjuangannya Catur.

Saya ingat, hubungan pertemanan kami sangat akrab sampai sebelum saya berangkat ke Perth untuk sekolah. Bahkan beberapa tahun setelah itupun, kami masih asyik-asyik aja.. masih haha-hehe bareng walaupun frekuensinya berkurang. Dan siapa sangka, lama-lama frekuensinya makin dan semakin berkurang, sehingga saat ketemu, yah.. kayak hanya sebatas "hi" dan "bye".

Gereja kami memiliki 2 cabang: Perniagaan dan Duta Mas. Saya dan Catur kebanyakan berada di Perniagaan, sedangkan dia lebih banyak di Duta Mas. Mungkin karena jarang ketemu itulah, perlahan-lahan kami menjadi jauh.

Kalau ada istilah, "Tak kenal maka tak sayang" .. mungkin itulah yang terjadi.

Saya juga nggak tahu mulai kapan saya berpandangan negatif sama dia, dan ternyata Catur pun mengenakan kacamata yang sama dengan saya. Bukannya berusaha mendekati teman lama, malah bawaannya jadi kesel aja sama dia. (A little note buat my friend: you better read this until the very end.. jangan berhenti di sini aja.. :p)

Belum lagi omongan-omongan negatif tentang dia, yang saya dengar dari orang-orang, makin menambah rasa sebel saya sama dia. Sampai akhirnya saya HARUS melayani bersama-sama dengan dia, dalam satu ruangan yang sama.

Pada awalnya saya sempet complain.. Kenapa harus dia yang ditaruh di situ? (Karena sebelumnya ada orang lain yang menjalankan tugasnya). Belum lagi, sikapnya dia yang cool abis, yang sama sekali ga friendly ke saya. Bukan lagi kayak 2 orang teman yang pernah kenal... bener-bener kayak a total stranger buat saya, annoying pula. (Hihi.. sorry yah fren, tapi emang ini yang saya rasakan)..

Sampai akhirnya, beberapa minggu lalu.. mungkin di awal bulan ini.. Kok ya tiba-tiba di hati saya ada dia. Bukan berarti jatuh cinta lho.. Tapi ya, saya mulai memandang dia dari sisi yang berbeda. Saya mulai mengganti kacamata saya. Saya ngobrol sama suami saya tentang dia.. Apa pendapat saya mengenai dia, dan ternyata.. banyak hal-hal positif tentang dia yang dapat kami diskusikan.

Berawal dari sebuah dinner bareng dia dan teman-teman yang lain, lalu pergi kondangan bareng.. Sampai akhirnya.. saya bisa chat sama dia.. (thanks to BlackBerry technology).. dan akhirnya berakhir di sebuah cafe. Just the three of us, saya, Catur dan dia.

Di situ mulai terungkap.. Ternyata apa yang kelihatan, belum tentu apa yang sebenarnya terjadi. Dia cerita betapa terpukulnya dia saat harus mengakhiri hubungan sama kekasihnya (please pardon my puitis words.. :P), hal-hal yang dia alami dalam pelayanan dan pekerjaan... Oh man, saat itu rasanya saya nyesellll banget dah pernah sebel sama dia.

Ternyata dia hanya membutuhkan seorang teman.

Seorang teman yang bisa diajak curhat, yang nggak sekedar haha-hehe..
Memang kita bisa berteman dengan siapa aja.. Tapi tidak dengan semua orang kita bisa berbagi. Betul betul betul??

Singkat cerita, kami ngobrol dan mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Yah, perlahan-lahan, hubungan persahabatan yang tadinya hampir retak, mulai dibangun kembali.

Saya bersyukur, dia juga sudah bisa mulai terbuka sama saya dan Catur.. dan semoga juga saya & Catur bisa membagi hidup sama dia. Kami nggak sempurna, dan mungkin along the way, kami bisa mengecewakan dia. Tetapi saya berjanji, saya mau berusaha menjadi sahabat, or mungkin seorang sister buat dia.

Friends, mungkin di antara kalian juga mengalami hal mirip-mirip dengan apa yang saya alami. Kita terkadang gampang menghakimi orang, gampang menilai orang .. dan biasanya nilai yang kita berikan itu negatif. Sekali kita memberikan nilai negatif sama seseorang, secara otomatis, kita mengenakan kacamata 'minus'.. (ini istilah saya). Saat kita memakai kacamata minus ini, apapun yang orang tersebut kerjakan, padahal dia melakukan sesuatu yang TER-baik, bagi kita akan tetap minus, tetap salah dan tetap negatif. Kalau kacamata itu terus-terusan kita pakai, ga menutup kemungkinan akan timbul kebencian.. yah mungkin mulai dari sebel tingkat rendah, sampai akhirnya benci tingkat akut sama orang tersebut. Padahal ujung-ujungnya kita sendiri yang dosa..

Mungkin ini saatnya kita melepaskan kacamata minus tersebut. Belajar untuk melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Saat kita mulai memandang with a positive point of view.. semuanya bisa benar-benar berbeda. Kita harus mengganti kacamata kita. Itu saja.

Mungkin teman kita keliatannya udah susah banget dideketin, bener-bener rese' dan annoying banget. Tetapi percaya deh.. gimanapun juga, everyone needs a friend. Semua orang membutuhkan seorang teman. Kembali lagi terserah kita mau buka hati dan buka tangan untuk dia atau nggak.

Selagi kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, ga ada salahnya kita berteman dengan banyak orang kan?

To all of my friends : I love you full!


(Buat 'teman' yang saya ceritakan di blog ini.. Sorry ya kalo kami sempet berpandangan negatif tentang kamu. We'll make it up to you.. and thanks for being our friend. Looking forward for our next coffee time :))

Let Me Help..

Sebuah kejadian yang simple terjadi hari ini, tetapi cukup untuk dijadikan sebuah perenungan buat saya..

Tadi siang, saya dan Catur mengajak Cedric ke supermarket untuk beli susu. Kebetulan susu anak-anak stocknya dah menipis. Entah kenapa, di rumah omanya, hasrat mereka untuk minum susu melonjak tajam. Hahaha..

Karena emang tujuannya cuma beli susu, maka saya nggak membawa trolley. Cukuplah dengan membawa keranjang tangan. Saat itu Cedric bilang, "Mami aku mau bawa keranjangnya". Jadilah si bocah kecil ini menenteng-nenteng keranjang sampai ke rak susu.

Saya isi keranjang tersebut dengan 4 kotak susu, yang masing-masing beratnya 900 gram. Kurang lebih 3,6 kg ya totalnya. Setelah itu, saya mau membawakan keranjang belanja itu, karena saya tahu Cedric nggak bakalan kuat bawa keranjang tersebut. Tetapi dia ngotot mau bawa, sampai keranjang tersebut diseret-seret karena terlalu berat.

Lalu saya bilang, "Sini, mami bantuin. Berat kan?"
Dia masih memaksa untuk membawa keranjang tersebut. Dia bilang, "Aku bisa kok.."
Kali ini dia coba angkat, ga diseret lagi, sampai agak doyong-doyong badannya. Lucu sih, tapi nggak tega juga ngeliatnya. HiHi..
Saya offer help untuk kedua kalinya, "Sini, Mami aja yang bawa. Kalo nggak boleh, yuk kita bawa berdua.."
Akhirnya Cedric membiarkan keranjang itu saya bawa.

Saat saya membawa keranjang tersebut, tiba-tiba saya ingat apa yang Tuhan bilang.. "Marilah kepada-Ku yang berletih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu."

Situasinya kayaknya sama dengan apa yang saya alami tadi siang. Cedric itu umpama kita sebagai manusia.

Mungkin terkadang Tuhan sendiri udah menawarkan bantuan ke kita, "Sini Nak, Aku bantu bawain.. kayaknya berat banget bebanmu.."
Tetapi kitanya yang masih ngeyel dan bilang.. "Gak apa-apa Tuhan, saya bisa kok."
Mungkin sama seperti saya tadi, Tuhan cuma bisa senyum-senyum melihat kita menyeret-nyeret persoalan kita, kita coba angkat sampai terhuyung-huyung, tetapi bagaimanapun apa yang kita alami tetap terasa berat.
Sampai akhirnya Tuhan bilang lagi.. "Udah sini, Aku bantuin.. Berat kan?"
Tuhan tetap menunggu dan menawarkan bantuan-Nya sampai kita sungguh-sungguh mau melepaskannya dan membiarkan Dia mengambil alih 'beban' itu dari tangan kita.

Banyak hal yang saya alami beberapa bulan belakangan ini.. dan memang itu terasa amat sangat berat. Ternyata itu terasa berat karena saya belum mau melepaskan 'keranjang' itu dari tangan saya. Saya masih berusaha menyeret-nyeret dan menggotong beban itu sendirian...

Ada sebuah phrase yang sangat bagus..

"As Children bring their Broken Toys
With Tears for Us to Mend,

I Brought My Broken Dreams to GOD,
Because HE was My FRIEND.

But then, Instead of Leaving HIM
In Peace to Work Alone,

I hung around and tried to help
With Ways that were My Own.

At last I snatched them back and cried,
How can YOU be so slow?

My Child, He said, what could I do?
You never did let go."

Saya pernah menulis sebuah blog mengenai phrase ini.. Tetapi entah ada di blog yang sebelah mana. Hahaha..

Cuma satu yang saya tekenin, terkadang kita complain sama Tuhan.. mengapa begini dan mengapa begitu?? Tetapi sebenernya, kita belum menyerahkan sepenuhnya kepadaNya.

Masalah-masalah yang saya hadapi belum selesai. Mungkin terkesan agak santai, karena masih suasana libur lebaran.. Namun saya tahu, setelah lebaran ini selesai, masalah yang terjadi di kantor akan mencuat kembali, dan saya harus siap menghadapinya.

Siapa sangka peristiwa sederhana yang saya alami tadi siang, ternyata bisa membantu saya untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi hari esok?

OK God.. I want to let go.

Wednesday, August 18, 2010

God, help..

Have you ever faced with a situation.. where you have a very very heavy problem (according to you) and you have no one to share it with? It's not because you don't have friends.. it's because you just don't know where to start. Even if you share it with someone, they can't help you as well.. So, you keep it to yourself, quietly try to find a way out with your own thinking and strength, and your friends won't notice that you actually have a problem.

I'm experiencing that at the moment... and I became so stressful, tired and hopeless.

Perusahaan kami sedang mengalami masalah keuangan, di mana stock barang menumpuk, sedangkan tagihan-tagihan tetap harus dibayar... Itu menyebabkan ketersendatan di dalam tagihan kami, yang secara otomatis berpengaruh terhadap cashflow. Kami bisa melewati hari demi hari, hanya karena anugerah. Hal ini sudah terjadi hampir sebulan..

Tetapi pagi ini semuanya berbeda..

Seperti biasa, jam 9 tepat, bank tercinta menelepon saya dan melaporkan 'liputan pagi' tentang saldo yang ada di rekening perusahaan kami. "Bu, rekening yang ini kurang sekian, dan yang ini kurang sekian." .. Saya tutup telepon, dan membuka rekening kami yang lain, ternyata belum ada satupun pelanggan kami yang mentransfer uang. Saat itu saya masih bisa tenang, karena biasanya mereka akan mentransfer setelah makan siang.

I closed my eyes and prayed.. "God, help.. One thing for sure, You're never too late. I believe that I will be able to go thru this day with Your help. I really don't know what to do.. but I believe that You're more than able.."

Jam 10.. Jam 11.. tidak ada satupun yang masuk

Jam 12 .. Akhirnya satu pelanggan kami mentransfer.. Namun jumlahnya masih 1/6 dari total yang kami butuhkan.

Jam 1.. I start to worry... Karena selama bulan puasa ini, bank tutup lebih awal. Saya harus ke bank paling lambat jam 2.

Jam 1.30.. saldo masih tetap sama..

Jam 1.45.. seorang pelanggan kami yang lain mentransfer.. Setidaknya jika ditotal, sudah 1/2 dari yang kami butuhkan.

Jam 2 tepat. Tidak ada pergerakan saldo sama sekali.. I started to stress out dan mulai putus asa. Saya melangkah gontai ke bank, untuk mengambil sejumlah uang yang 'seadanya' itu. Saya sudah siap jika giro-giro kami ditolak.. Saya pikir, "Abis gimana lagi? Toh ini semaksimal yang kami mampu."
Saat itu, saya meng-update status BBM saya menjadi, "Ternyata tidak ada pertolongan hari ini." dan jujur, saya kecewa sama Tuhan.

Saya sampai di bank jam 2.25. Terlambat sebentar saja, pastilah saya sudah tidak diperbolehkan masuk. Sesampainya di bank, setelah mengisi form penarikan, saya sengaja mengambil ekstra. Pikir saya, siapa tahu, ada yang transfer lagi. Saat mengantri, iseng-iseng saya mengecek saldo melalui handphone, dan ternyata ada satu pelanggan lagi yang mentransfer... Ketika ditotal, jumlahnya sudah 90% dari yang saya butuhkan. Dan saya berfikir.. "Oke lah, setidaknya hanya 1 giro yang akan ditolak."

Keluar dari bank tersebut, saya harus ke bank yang lain untuk melakukan penarikan kedua. Di mobil, suami saya bilang, bahwa ada pelanggan saya yang mau bantu dan mentransfer 1 nota lagi... sehingga untuk hari ini sudah tercover semua. Saya bernafas lega untuk sesaat, namun kekuatiran mengenai hari-hari kami ke depan menghantui pikiran saya, sehingga saya bener-bener lupa untuk mengucap syukur.
Saat itu saya meng-update status BBM saya, "Tepat pada waktunya.."

Tidak lama setelah saya mengganti status tersebut, seorang teman mengirim pesan kepada saya, dan bilang "Pelajaran hari ini: Jangan bilang ga ada dulu, nanti Tuhan yang komplain. Pertolongannya ada lebihnya ga?" Saya sempet cuekin dan males banget untuk ngejawab karena mood saya lagi amat sangat nggak enak, dan perut saya sakit banget. (ini adalah salah satu indikasi kalo saya stress berat.. perut langsung sakit). Saya hanya menjawab "Masih kurang" (walaupun sebenernya sudah cukup untuk hari ini, namun dari hati saya, saya sangat ingin besok ga usah ada 'liputan pagi'... Cukuplah stress ini sampai di sini..). Dan dia kembali mereply.. "Tetap berharap. Semangat!" Dan saya nggak reply dia lagi setelah itu.

Tetapi sekarang saya sadar, it must be God yang udah tegur saya saat itu.. karena saya meragukan Dia dan kuasaNya.

Saya membuka account facebook saya, ada seseorang yang memasang status "Kenapa ya aku nggak bisa membahagiakan orang yang aku sayang?" .. Dan entah gimana saat itu saya langsung comment.. "Ada yang pernah bilang bahwa bahagia itu adalah pilihan. Kalau kamu sudah melakukan yang terbaik, dia tetap nggak bahagia.. that's not your fault." Setelah saya post comment saya, dalam hati, saya juga berkata... "Oh well.. after all this, I can also choose whether I want to be happy or not.." Tapi saat itu, saya belum bisa memilih "to be happy".

Setelah semua Amazing Race ini selesai, saya masih pulang ke rumah dengan hati gundah. Lemes rasanya, capek.. Mungkin karena terlalu tegang memperhatikan angka-angka di rekening, semua otot saya jadi ikutan tegang sehingga saya menjadi teramat sangat capek. Saya memutuskan untuk tidur sejenak. But I can't help it.. I cried because of that stressful moment. I asked continually, "why? why? and why?? Kenapa hal ini harus terulang lagi sih?" FYI, 2 tahun lalu kami mengalami hal seperti ini juga. Saya merasa gagal, kecewa dan satu lagi.. hopeless.

Suami saya pun ga bisa berkata apa-apa.. Dia cuma menyodorkan sebuah ayat ke saya: 1 Korintus 10:13 yang berkata "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

Saya cuma membaca sekilas ayat tersebut, dan dalam hati saya, saya bilang.. "Udah tau!" Dan saya coba memejamkan mata.

Di dalam hati saya ada yang berkata, "Ternyata sangat mudah ya menyanyikan lagu 'Ku 'kan terbang tinggi di awan.. bersamaMu dalam kemuliaan..' saat kamu ada dalam posisi enak. Kenapa saat sekarang ini, saat kamu harus terbang, kamu ga bisa mengepakkan sayapmu?"
Tetapi saya ga ambil pusing, saya memilih untuk tidur.

Saat saya menulis blog ini, saya teringat masa-masa ketika saya menghadapi tugas-tugas kuliah saya yang menumpuk. Sempat stress juga, tapi mungkin dengan intensitas yang berbeda. Saya menghadiri sebuah ibadah minggu, dan lagu "Ku 'kan Terbang" ini dinyanyikan. Si worship leader memberikan ilustrasi, jika kita berjalan.. kita melihat gunung itu dari depan, seolah gunung ini gak bisa didaki dan dilalui, karena gunung itu lebih tinggi dari kita. Tetapi jika kita terbang seperti rajawali, gunung setinggi apapun bisa kita lewati, karena kita lebih tinggi dari gunung. Dan pada saat itu I choose not to worry, I wanna fly above my problems.

Sekarang saya ngerti, kenapa Tuhan malah ingetin saya ke lagu "Ku 'kan Terbang" ini ketimbang lagu-lagu lain yang lebih mengingatkan saya kepada pertolongan Tuhan. God is ready to help me.. It's just me that wasn't ready to fly with Him. Think I have to spread my wings and start flying. :)

Sebangunnya saya dari short nap itu, saya membuka account facebook saya di BB. Rupanya salah seorang teman (yang tidak terlalu saya kenal), baru saja mengupdate statusnya. Statusnya berbunyi seperti ini : "Things may not have always been easy, but you made it this far. Push the limits and be brave! Warrior, not a worrier!"

Saya hanya bisa terpaku melihat screen. Is this another message from God? and now I believe it is.

Friends, mungkin temen-temen juga mengalami banyak masalah... Mungkin tidak sama seperti apa yang saya alami, tetapi mungkin ini saatnya buat kita untuk kembali membentangkan sayap dan terbang bersama Dia. Mungkin kita udah terlalu lama mengistirahatkan sayap kita, berada di comfort zone kita, sehingga kita lupa untuk terbang. Sekarang ini comfort zone saya sedang digoncang-goncang supaya saya belajar terbang lagi. I thank God for a valuable lesson He gave me today. Terima kasih juga buat temen-temen yang udah jadi alat buat menyadarkan saya.. Hehe.. I'm gonna spread my wings now and fly with Him.

"Ku 'kan terbang tinggi bagai rajawali
Di atas segala persoalan hidupku
Dan aku percaya saat ku bersama-Nya
Tiada yang mustahil bagi Dia.."

Monday, August 2, 2010

I am FAT and Very Happy..

OK. I lied.
I am never happy when I gain weight or look chubby... But I'm still trying to be happy no matter what..

Beberapa hari yang lalu, terjadi percakapan singkat di BB dengan seorang teman dekat. Dia memiliki masalah yang sama dengan saya.. yes.. as the title said.. we're overweight (kayaknya lebih sopan ketimbang bilang "fat" ya.. Hehehe)..

Pada dasarnya, dia ingin membeli sebuah product yang katanya bisa menurunkan berat badan. Kebetulan banget, dulu saya pernah coba pake produk itu.. (duluuuuuuuuuuuuuuuu... banget) dan saudara sepupu suami saya juga pernah pake produk itu. Berhasil kah?? Ya.. berhasil.. untuk beberapa saat. Ketika kami sudah tidak mengkonsumsi product itu, kembalilah kami seperti semula, and may be bigger than before... dan saya bisa mengambil kesimpulan bahwa produk-produk diet itu just a waste.

(Bagi yang membaca ini, dan udah mau mulai arguing about those diet products.. atau menawarkan obat lain.. ntar dulu yah.. baca dulu sampe abis.. :p )

Saya ceritakan kepada dia bahwa saya pernah coba macem-macem cara untuk ngurusin badan. Tetapi pada intinya hanya satu yang dibutuhkan: motivasi.

Dia bilang.. "Yah, cici mah enak.. Kan dah married.. Dulu sebelum married cici kurus.. Aku nih, belum punya cowok.."
Saya cuma bisa bilang.. "Kalo ada cowok naksir or suka seseorang karena dia kurus.. he's very shallow. Bukannya kamu juga yang sering bilang kalo beauty comes from within?"

Dan di situ saya mulai cerita tentang beberapa teman yang kurus, namun sampai sekarang belum bertemu dengan pangerannya.. Tetapi ada juga beberapa teman yang gemuk (sejak single), tapi sekarang udah happily married.. Pada intinya, kurus / gemuk ga pengaruh. Mungkin memang si kurus punya bigger chance untuk dapet pasangan.. Tapi bagi saya, pengaruhnya gak besar.

As I'm typing this.. tiba-tiba ada ide comes to my mind.
Kenapa orang kurus tampaknya lebih mudah untuk mendapatkan pasangan? Mungkin karena mereka lebih PD sehingga mereka tampak lebih menarik. Sedangkan orang gemuk, seperti yang saya alami, mereka cenderung menarik diri dari suatu komunitas, karena merasa nggak PD... Dan yang sangat disayangkan, di masyarakat kita, orang gemuk lebih sering dijadikan bahan olok-olok... atau bulan-bulanan.. sehingga tercipta sebuah stereotype.. gemuk = jelek. Padahal belum tentu... Dan kalau boleh memilih, mungkin semua orang akan memilih bertubuh kurus... and that's when people starts to blame God.. "Tuhan, kenapa Tuhan ciptain aku gemuk??"

Ada sebuah kisah yang dishare via BBM mengenai secangkir kopi. Saya lupa bagaimana cerita sebenarnya.. tapi pada intinya seperti ini:
Seorang professor dikunjungi oleh alumni-alumninya.. dan si professor ini menyediakan kopi dalam cangkir yang berbeda-beda... Dari cangkir yang paling indah.. sampai yang paling jelek, dan mereka disuruh memilih cangkir masing-masing. Banyak orang memilih cangkir yang indah.. Tetapi si professor itu kemudian berkata... Cangkir itu hanya wadah.. yang terpenting adalah kopinya.. Karena di cangkir manapun, baik yang terindah maupun yang terburuk, rasa kopi itu tetap sama.
Physical appearance kita ibarat cangkir. Apa yang ada di dalam kita ibarat kopi. Memang mungkin orang bisa tertarik melihat cangkirnya, tetapi jika dicicip ternyata rasanya nggak enak, mungkin orang itu tidak akan meminumnya. Tetapi walaupun cangkirnya buruk, tetapi jika dicicip rasanya enak, orang akan meminumnya sampai habis.

Saya nggak bilang adalah suatu kesalahan untuk menjadi cantik. It's OK to be pretty, it's okay mau mengusahakan untuk kurus, langsing... Tapi jangan jadikan kecantikan / physical appearance menjadi sesuatu yang utama. Girls, you are perfect just the way you are (as Nick Vujicic said in his movie). You are beautiful just the way you are. Emang susah banget untuk mendeklarasikan hal ini di saat kita down.. atau ada orang yang mengejek kita.. (relax, I'm experiencing that as well.. and I'm still learning) Tapi inget.. Tuhan menciptakan kita sangat baik. We're perfect creations of God.

For guys.. oh c'mon.. don't be so shallow. Jangan cuma lihat seseorang dari penampilan luarnya. Penampilan luar bisa berubah anytime. Seseorang bisa menjadi tua, menjadi gemuk, dan mungkin nggak menarik lagi.. Tapi apa yang ada di hatinya, itu yang akan bertahan.

"I praise You because I am fearfully and wonderfully made. Your works are wonderful, I know that full well." (Psalm 139:14)

PS. Thanks to 'my friend' yang udah menjadi inspirasi buat saya untuk nulis ini. Hope you don't mind :)